putih abu-abu itu bernama dunia
aku mencoba untuk mencari-cari kemanakah arah mata itu melihat,namun hanya helaian benang tak nampak pada matamu,ia-seolah-olah mencari dunianya sendiri,dunia yang memiliki selaput tipis,pemisah dirimu dan dunia luar.
aku sering bertanya,dimanakah dunia di matamu itu?
sering pula ku bertanya,bisakah aku masuk ke dalamnya?
bila ku melihat matamu,akupun terasa masuk ke dalam dunia putih abu-abu yang kau bangun sendiri,
namun,dunia itu sepi tak berpenduduk,hanya gemerisik daun dan butiran embun yang jatuh ke tanah yang dapat kudengar.
apakah kau bahagia di dalam duniamu?kulihat,kau tersenyum sambil menatap rajutan awan di angkasa sana.
mungkin,inilah kebebasanmu,di duniamu yang tidak kau temukan di dunia ku.
selaput tipis pembatas yang kau bangun sudah hampir selesai,sebentar lagi tidak akan ada celah untukku sama sekali untuk masuk dalam duniamu.
dari sini,dari duniaku,aku mencoba menarik helaian benang tak nampak itu,helai demi helai,kugulung,sehingga dapat kupintal menjadi kain pembungkus.
kain pembungkus itu nantinya akan kuhadiahkan untukmu,temanmu kala kau tidur.
kuharap,kain itu selalu dapat mengingatkanmu akan diriku.
aku ingin menjadi warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu dalam matamu..pelengkap dirimu yang berwarna putih dan abu-abu.
kita akan mewarnai bangunan, tumbuhan, bebatuan, air, bunga, tanah, pagar, langit, awan, burung dengan warna-warna yang terang,
dan dunia berwarna terang itu pun akan menyatu dengan duniaku, sehingga menjadi dunia kita.
inspired by:
salah seorang muridku yang memiliki dunia putih abu-abu,dunia luas dalam matanya,
seorang anak laki-laki berusia 15 tahun yang dekat dengan suara butiran debu tak nampak,
dan jauh dalam suara keramaian yang bising.
seorang guru bagiku dalam dunianya,
terima kasih,sudah mau berjumpa denganku...






Recent Comments