Rindu

Share :



Tiba-tiba saya ingin menulis lagi.
berbicara dengan benda tak bernyawa, menumpahkan seluruh perasaan saya, tanpa perlu ada yang mendengarkan, tanpa perlu adanya respon.
karena ada kalanya kita, hanya sebatas ingin didengarkan saja, tidak perlu jawaban apalagi pertanyaan.
Saya hanya ingin meninggalkan jejak yang tidak mudah terhapus, seperti jejak kaki di pasir pantai.
Saya ingin mengumandangkan untaian kata lewat angin yang berhembus, membisikkannya pada air yang bergemericik, lalu menina-bobokan perasaan yang sudah terlanjur jatuh ke dasar laut dan menjadikannya endapan di palung laut, biar tidak perlu ada yang mendengar dan menyaksikan, biar saja bergema dalam bahasa yang tidak terjangkau mata, karena memang tidak perlu lagi dibangunkan dari tidur panjangnya.

Rindu.
hanya kata itu yang bisa mewakili perasaan saya saat ini.
saya rindu masa kecil, rindu bermain hujan, bermain kejar-kejaran, bermain lompat tali, berlarian di genangan air, rindu tertawa, rindu melakukan banyak hal tanpa memikirkan apa akibatnya, rindu melakukan hal-hal kecil, semua begitu berharga, tidak ada sesuatu yang tidak membuat saya merasa senang di kala itu.
entah mengapa, usia seperti merenggut semua itu
merenggut senyum, tawa, bahkan sorot mata teduh itu sulit sekali untuk saya jumpai.
entahlah...hal-hal kecil bak raksasa dan raksasa sering kali tak terlihat dari teropong mata.
ia bahkan menjadi buta karena teramat temaram, tuli karena teramat bising. dunia dalam mata tidak lagi menggambarkan keindahan masa kecil yang dihiasi padang rumput nan luas tempat saya dan teman-teman kecil saya berkejaran, bahkan ketika tidur pun, saya tetap membangun taman bermain impian saya.
negeri tidak terbatas dalam kepala saya.

Rindu.
rindu dengan tangisan yang disebabkan oleh luka di lutut atau dimarahi mama karena bermain terlampau sore.
air mata yang keluar, air mata murni anak kecil yang polos karena merasa bersalah dan membuat setiap orang yang melihatnya ingin memeluknya. Air mata yang tidak dinodai oleh perasaan yang tidak perlu.
Saya rindu, dengan pecahan tangis yang melegakan, bukan isakan kecil terasa sesak di dada.

Saya rindu...





posted under | 0 Comments

Pemeran Utama

Share :



Di dunia ini..
ada yang namanya pemeran utama, yaitu seseorang yang menjadi pusat perhatian, berdiri di bawah lampu sorot, terang ketika sekelilingnya gelap. menjadi perhatian setiap manusia, karena dia adalah sang pemeran utama yang menjadi kunci cerita dalam sebuah drama, tanpanya cerita menjadi tidak menarik, hampa, kosong, ada sesuatu yang hilang, bergesarnya ia sedikit dari permukaan bumi akan membuat orang-orang kalang kabut mencarinya.
candu.
bahkan orang-orang menjadi candu padanya.

Masih dalam dunia yang sama, namun berbeda tempat, waktu. jalan hidup, atau bahkan berbeda nasib?
oh nasib, apa itu nasib, setiap orang selalu percaya bahwa setiap yang terjadi pada dirinya saat ini adalah nasib yang seolah sudah tidak bisa ia apa-apa-kan lagi, padahal nasib yang kamu yakini itu bisa saja akan berbeda keesokan harinya, who knows? Allah knows what you need not what you want.
terdapat seseorang yang dinamakan sebagai penyangga lampu sorot, stuntman, orang-orang yang berlalu lalang di jalan, mereka ada dan tidak pun tidak banyak orang yang menyadarinya, atau bahkan tidak ada yang peduli? sedih bukan?
kenapa?karena sesungguhnya diri mereka sendiri yang mengizinkan untuk tidak terlihat oleh orang lain. Mereka antipati, memiliki penolakan yang besar pada dunia, tidak jujur pada perasaan mereka, menarik diri pada dunia, hidup hanya mengikuti arus air tidak peduli air akan membawanya kemana (hanya ikan mati yang mengikuti arus air), terkadang memiliki rasa khawatir, tapi lebih cenderung tidak peduli, karena sudah tidak memiliki ketertarikan pada dunia, sehingga dunia pun tidak memiliki ketertarikan pada dirinya.
ada dan tiada, tidak ada yang peduli dengan dirinya, hanya sebagai penghias yang tidak terpakai setelah acara selesai.

Termasuk dalam kategori manakah kita dalam hidup ini?
yang pasti..setiap orang adalah pemeran utama dalam hidupnya masing-masing, terlepas dari miskin-kaya, bagus-jelek, rajin-malas, tinggi-pendek keadaan dirinya....semua manusia lahir ke bumi ini dipersiapkan untuk menjadi pemeran utama.
akan tetapi, tidak semua manusia mau meyakini dan memerankan dirinya sebagai pemeran utama, bahkan untuk jalan cerita mereka sendiri. mereka hanya menjadi seorang tokoh pendukung yang kasat mata, membiarkan orang lain masuk dalam kehidupannya, mengambil alih peran mereka.
lalu, apa yang mereka perbuat?
marah, sedih, kecewa, atau mencoba ingin mengambil kembali perannya?
beberapa diantaranya ada yang seperti itu, beberapa diantaranya hanya diam kemudian menyerah dengan keadaan.

-ditulis ketika ingin keluar dari comfort zone

posted under | 0 Comments
Newer Posts Older Posts Home
Powered by Blogger.

    Get this widget!

Recent Comments