Kosong
begitu nikmat keluar dari kerumunan..
berjalan seorang diri, menepi, menyepi, hanya ada diriku.
menempuh jalan yang tidak memiliki ujung,
kadang karena terlalu asik, aku sampai lupa tentang kehadiran waktu yang hadir seperti air yang selalu mengalir.
jarum jam terus melaju, melesat tanpa mengenal ampun.
ia tidak memberiku tenggat atau aba-aba bahwa hari sudah senja.
hal terburuk adalah ketika kehilangan jalan pulang, tersesat.
disorientasi melanda, entah mana barat, timur, utara, atau selatan.
semua terlihat sama, pepohonan, bebatuan, tidak ada petunjuk jalan.
ketika dalam keadaan seperti ini, yang teringat hanya satu, kenapa aku tidak membawa kompas?kenapa aku tidak menyisakan remah-remah roti di sepanjang jalan?
semakin jauh aku berkelana, aku semakin takut tidak akan pernah kembali.
dan benar, aku merasa sudah terlalu jauh dari peredaran bumi.
bahkan, sekarang aku terhisap dalam segitiga bermuda.
oh ya?bagaimana bisa aku sampai terseret pusaran segitiga bermuda? terlalu rumit jika dipikirkan.
kalau sudah seperti ini, aku berharap semoga ada robot yang datang menuntunku kembali pulang, atau terserahlah apakah itu alien atau monster laut yang menjemputku, aku tidak peduli, yang penting aku pulang.
siapapun tolong aku, aku tidak ingin sendiri di pulau yang sepi ini.
ah, kadang sepi pun bisa menyakitkan.
sepi pun bisa menusukku sampai jauh menembus sumsum tulang.
tiba-tiba aku tersadar perihnya berkelana seorang diri,
ketika aku melihat kebelakang,
aku pun termenung, diam, lama sekali menatap jejak-jejak kakiku yang berjalan sendirian.
ya, aku sendiri.

0 comments:
Post a Comment